Oops! It appears that you have disabled your Javascript. In order for you to see this page as it is meant to appear, we ask that you please re-enable your Javascript!

Crown 365

Kumpulan Situs Judi Domino Poker Bandar Online

BerlinQQ

Pengamat Ahok Harus Mampu Maksimalkan Waktu Kampanye

Pengamat Ahok Harus Mampu Maksimalkan Waktu Kampanye

Pengamat Ahok Harus Mampu Maksimalkan Waktu Kampanye

Pengamat Ahok Harus Mampu Maksimalkan Waktu Kampanye

Agen DominoDomino OnlineDomino Qiu QiuDomino QiuDomino 99

Pengamat Ahok Harus Mampu Maksimalkan Waktu Kampanye

BERITA 1 November 2016 – Pengamat Ahok Harus Mampu Maksimalkan Waktu Kampanye

Jakarta: Hingga saat ini baru pasangan calon petahana Basuki Ahok Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat yang mendaftar ke KPU DKI Jakarta. Pasangan ini didukung PDI Perjuangan, Golkar, Nasdem dan Hanura dengan kekuatan 52 kursi dari 106 kursi di DPRD DKI Jakarta. Kini warga Jakarta menunggu siapa yang akan menjadi penantang serius Ahok-Djarot yang kerap diunggulkan dalam berbagai survei.

Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC) Zaenal A Budiyono menilai , meski Ahok-Djarot diunggulkan bukan tidak mugkin kompetitornya tertutup peluangnya. Pasalnya lanjut dia, politik di era demokrasi terbuka seperti saat ini lebih banyak ditentukan oleh persepsi voters (pemilih) yang didukung saluran informasi (media). Tak jarang calon yang awalnya inferior, tiba-tiba menyalip di tikungan bila bisa memanfaatkan momentum dan mampu menangkap keresahan voters. Namun di atas semuanya, track record dan program kerja calon tetap yang utama sebagai “jualan” di masyarakat.

Setidaknya kata Zaenal, ada beberapa peluang agar pasangan penantang Ahok-Djarot bisa menang. Pertama, para elit di Koalisi Kekeluargaan harus secepatnya menemukan konsensus untuk mengusung satu pasangan calon. Dengan demikian, bergabungnya Gerindra, PKS, Demokrat, PPP, PKB dan PAN secara psikologi politik akan membuat pasangan yang diusung nanti merasa percaya diri. Total kursi dari keenam partai tersebut sekitar 54 kursi.

Hanya saja lanjut dia, kebiasaan elit di negeri ini sulit sekali mencapai kata sepakat-terutama kerelaan mengalah demi menghasilkan calon yang terbaik dan berpeluang menang. Terbaik dalam arti memiliki kapasitas dan program nyata sebagai pemimpin Ibu Kota.

“Berpeluang menang tentunya dikenal masyarakat. Bila hanya sisi terbaik dari kandidat saja yang dikejar, itu seperti berdiri di menara gading-tidak melihat realitas pemilihan serentak yang direct election. Karena itu, publik menunggu apakah tokoh-tokoh besar sekelas SBY, Prabowo dan lain-lain mampu menemukan konsensus demi menghadirkan lawan tangguh bagi incumbent,” ujar Zaenal dalam keterangan tertulisnya kepada Metrotvnews.com, Kamis (22/9/2016).

Kedua, lanjut Zaenal, dari sekian nama yang muncul di bursa Cagub Koalisi Kekeluargaan. Tampaknya hanya ada dua nama yang memiliki kriteria “terbaik” dan “berpeluang menang” di Pilkada 2017. Nama itu adalah Yusril Ihza Mahendra dan Anies Baswedan. Yusril dengan latar belakang dan kapasitasnya tak akan sulit meladeni Ahok saat debat kandidat mendatang. Kekurangan Yusril hanya pada akseptabilitas dan elektabilitas di publik yang masih kurang, yang terindikasi dari kegagalan partainya menembus electoral treshold dalam beberapa kali pemilu terakhir.

Sementara sosok Anies Baswedan lanjut dia, dikenal sebagai intelektual unggul yang juga secara kapasitas tidak diragukan. Popularitas Anies juga lumayan, karena ia sudah lama dikenal publik. Satu kekurangannya adalah saat terkena reshuffle dari Kabinet Kerja belum lama ini, sehingga menimbulkan spekulasi kurang perform dalam memimpin kementerian, setidaknya di mata presiden.

“Namun sekali lagi, politics is about perception. Bila Anies bisa “mengolah” leability-nya sedemikian rupa, bisa jadi momen dirinya terlemparnya dari kabinet justru menjadi keuntungan. Ini merujuk “teori” bahwa pemilih di Indonesia masih menyukai orang-orang yang “terzalimi”. Apa yang pernah dialami SBY dan Jokowi juga masih meneguhkan “teori” ini berlaku,” ujar dosen FISIP Universitas Al Azhar Indonesia ini.

Ketiga, kata dia, mesin partai harus bekerja optimal. Dalam banyak kasus, koalisi besar kerap kesulitan mengkonsolidasikan diri sehingga menjadi lamban bergerak dan minim manuver. Munculnya fenomena relawan di Pilpres dan Pilkada menunjukkan, mesin partai tidak berjalan optimal. Bahkan ada idiom bahwa partai hanyalah gerbong kereta yang kosong, sementara penumpangnya (pemilih) berada di luar kereta itu.

Dibaca JugaVIDEO DPR Setujui RAPBN 2016 Jokowi Senilai 2 ribu Triliun lebih

Facebook Comments

JatimQQ

BerlinQQ

Pengamat Ahok Harus Mampu Maksimalkan Waktu Kampanye

Pengamat Ahok Harus Mampu Maksimalkan Waktu Kampanye

Pengamat Ahok Harus Mampu Maksimalkan Waktu Kampanye

Pengamat Ahok Harus Mampu Maksimalkan Waktu Kampanye

Agen DominoDomino OnlineDomino Qiu QiuDomino QiuDomino 99

Pengamat Ahok Harus Mampu Maksimalkan Waktu Kampanye

BERITA 1 November 2016 – Pengamat Ahok Harus Mampu Maksimalkan Waktu Kampanye

Jakarta: Hingga saat ini baru pasangan calon petahana Basuki Ahok Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat yang mendaftar ke KPU DKI Jakarta. Pasangan ini didukung PDI Perjuangan, Golkar, Nasdem dan Hanura dengan kekuatan 52 kursi dari 106 kursi di DPRD DKI Jakarta. Kini warga Jakarta menunggu siapa yang akan menjadi penantang serius Ahok-Djarot yang kerap diunggulkan dalam berbagai survei.

Direktur Eksekutif Developing Countries Studies Center (DCSC) Zaenal A Budiyono menilai , meski Ahok-Djarot diunggulkan bukan tidak mugkin kompetitornya tertutup peluangnya. Pasalnya lanjut dia, politik di era demokrasi terbuka seperti saat ini lebih banyak ditentukan oleh persepsi voters (pemilih) yang didukung saluran informasi (media). Tak jarang calon yang awalnya inferior, tiba-tiba menyalip di tikungan bila bisa memanfaatkan momentum dan mampu menangkap keresahan voters. Namun di atas semuanya, track record dan program kerja calon tetap yang utama sebagai “jualan” di masyarakat.

Setidaknya kata Zaenal, ada beberapa peluang agar pasangan penantang Ahok-Djarot bisa menang. Pertama, para elit di Koalisi Kekeluargaan harus secepatnya menemukan konsensus untuk mengusung satu pasangan calon. Dengan demikian, bergabungnya Gerindra, PKS, Demokrat, PPP, PKB dan PAN secara psikologi politik akan membuat pasangan yang diusung nanti merasa percaya diri. Total kursi dari keenam partai tersebut sekitar 54 kursi.

Hanya saja lanjut dia, kebiasaan elit di negeri ini sulit sekali mencapai kata sepakat-terutama kerelaan mengalah demi menghasilkan calon yang terbaik dan berpeluang menang. Terbaik dalam arti memiliki kapasitas dan program nyata sebagai pemimpin Ibu Kota.

“Berpeluang menang tentunya dikenal masyarakat. Bila hanya sisi terbaik dari kandidat saja yang dikejar, itu seperti berdiri di menara gading-tidak melihat realitas pemilihan serentak yang direct election. Karena itu, publik menunggu apakah tokoh-tokoh besar sekelas SBY, Prabowo dan lain-lain mampu menemukan konsensus demi menghadirkan lawan tangguh bagi incumbent,” ujar Zaenal dalam keterangan tertulisnya kepada Metrotvnews.com, Kamis (22/9/2016).

Kedua, lanjut Zaenal, dari sekian nama yang muncul di bursa Cagub Koalisi Kekeluargaan. Tampaknya hanya ada dua nama yang memiliki kriteria “terbaik” dan “berpeluang menang” di Pilkada 2017. Nama itu adalah Yusril Ihza Mahendra dan Anies Baswedan. Yusril dengan latar belakang dan kapasitasnya tak akan sulit meladeni Ahok saat debat kandidat mendatang. Kekurangan Yusril hanya pada akseptabilitas dan elektabilitas di publik yang masih kurang, yang terindikasi dari kegagalan partainya menembus electoral treshold dalam beberapa kali pemilu terakhir.

Sementara sosok Anies Baswedan lanjut dia, dikenal sebagai intelektual unggul yang juga secara kapasitas tidak diragukan. Popularitas Anies juga lumayan, karena ia sudah lama dikenal publik. Satu kekurangannya adalah saat terkena reshuffle dari Kabinet Kerja belum lama ini, sehingga menimbulkan spekulasi kurang perform dalam memimpin kementerian, setidaknya di mata presiden.

“Namun sekali lagi, politics is about perception. Bila Anies bisa “mengolah” leability-nya sedemikian rupa, bisa jadi momen dirinya terlemparnya dari kabinet justru menjadi keuntungan. Ini merujuk “teori” bahwa pemilih di Indonesia masih menyukai orang-orang yang “terzalimi”. Apa yang pernah dialami SBY dan Jokowi juga masih meneguhkan “teori” ini berlaku,” ujar dosen FISIP Universitas Al Azhar Indonesia ini.

Ketiga, kata dia, mesin partai harus bekerja optimal. Dalam banyak kasus, koalisi besar kerap kesulitan mengkonsolidasikan diri sehingga menjadi lamban bergerak dan minim manuver. Munculnya fenomena relawan di Pilpres dan Pilkada menunjukkan, mesin partai tidak berjalan optimal. Bahkan ada idiom bahwa partai hanyalah gerbong kereta yang kosong, sementara penumpangnya (pemilih) berada di luar kereta itu.

Dibaca JugaVIDEO DPR Setujui RAPBN 2016 Jokowi Senilai 2 ribu Triliun lebih

Facebook Comments

JatimQQ

Crown 365 © 2018 Frontier Theme
×
Hello 👋
Saya dengan Violin (CS BerlinQQ) ada yang bisa kami bantu?
Link resmi: www.berlinqq.org / www.berlinqq.net